Monday, December 1, 2008

Penerimaan Mahasiswa Baru

ABFI Institute Perbanas menerima pendaftaran mahasiswa baru mulai dari tanggal 1 Desember 2008 - 31 Agustus 2009

Jenjang Pendidikan
1. Diploma Tiga (D3)
  • Manajemen Keuangan & Perbankan
  • Akuntansi
  • Komputerisasi Akuntansi
2. Strata Satu (S1)
Reguler & Intensif (Intensif diperuntukkan bagi lulusan D3)
  • Manajemen Keuangan & Perbankan
  • Akuntansi
  • Sistem Informasi
  • Teknik Informatika
  • Sistem Komputer
International Class Program (ICP)
  • Manajemen Keuangan & Perbankan
  • Akuntansi
3. Strata Dua (S2)
  • MM Reguler; Konsentrasi : Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran, Manajemen Sumber Daya Manusia
  • Executive MM Perbankan
  • Executive MM Risiko; Konsentrasi : Banking Risk Management, Corporate Risk Management
Ujian Saringan diadakan setiap bulan, mulai tanggal 28 Februari 2009

Lulus Tes Langsung bila memenuhi syarat sebagai berikut :
  • D3 dan S1 : Bahasa Inggris dan Matematika minimal 7
  • ICP : Bahasa Inggris minimal 8 dan Matematika minimal 7.5, wajib mengikut tes TOEFL dan Interview
  • S1 Intensif : IPK minimal 3 (dari Perguruan Tinggi dengan akreditasi minimal sama dengan Program Studi yang diminati)
  • S1 Sistem Komputer : wawancara dengan membawa fotokopi rapor semester 1 s/d terakhir, fotokopi sertifikat di bidang TI yang masih berlaku (mis. CISCO, Microsoft, ORACLE, dl)
Biaya
1. Diploma 3 (D3)
  • Formulir : Rp. 200.000,-
  • Uang kuliah/semester : Rp.4.500.000,-
  • SPP Ranking 1 : Rp.5.000.000,-
  • SPP Ranking 2 : Rp.6.000.000,-
  • SPP Ranking 3 : Rp.7.000.000,-
2. Strata Satu (S1) Reguler
  • Formulir : Rp. 200.000,-
  • Uang kuliah/semester : Rp.6.000.000,-
  • SPP Ranking 1 : Rp.12.000.000,-
  • SPP Ranking 2 : Rp.14.000.000,-
  • SPP Ranking 3 : Rp.17.500.000,-

3. Strata Satu (S1) Intensif
  • Formulir : Rp. 200.000,-
  • Uang kuliah/semester : Rp.6.0500.000,-
  • SPP : Rp.7.000.000,-

4. Strata Satu (S1) International Class Program
  • Formulir : Rp. 200.000,-
  • Uang kuliah/semester : Rp. 9.000.000,-
  • SPP Ranking 1 : Rp.17.500.000,-
  • SPP Ranking 2 : Rp.20.000.000,-
  • SPP Ranking 3 : Rp.22.500.000,-

5. Strata 2 (S2)
  • Formulir : Rp. 500.000,-
  • MM Reguler : Rp.32.000.000,-
  • MM Executive Perbankan : Rp.60.000.000,-
  • MM Executive Risiko : Rp.60.000.000,-

Beasiswa diberikan kepada calon mahasiswa dengan kriteria :
  1. Prestasi akademik 5 besar di sekolah
  2. Prestasi di bidang Ilmu Pengetahuan/Sains minimal tingkat nasional
  3. Prestasi di bidang Olahraga, minimal tingkat nasional
  4. Prestasi di bidang Seni dan Budaya, minimal tingkat nasional
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi (021)525.2533, 5222501-04 ext. 5108

Thursday, January 3, 2008

Komisaris BCA Cyrillus Harinowo resmi memimpin STIE Perbanas


Jakarta - Komisaris BCA Cyrillus Harinowo resmi memimpin STIE Perbanas menggantikan Drajat Prasetyo. Mantan pejabat BI ini yakin bisa melahirkan bankir-bankir berkualitas yang tak kalah dengan bankir asing. Dalam acara pelantikan yang berlangsung di STIE Perbanas, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Selasa (15/11/2006) petang, Cyrillus mencermati mulai berkurangnya pekerja asing di perbankan Indonesia. "Dulu semua bank-bank kita kita sangat butuh pekerja asing. Tapi sekarang malah terbalik. Bank-bank asing yang banyak menggunakan pekerja kita. Artinya SDM kita memang berkualitas," ujar mantan wakil direktur eksekutif IMF ini.
Ia pun memberikan contoh di BCA yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh investor AS. Namun demikian, hanya 2 dari 5 komisaris BCA yang merupakan orang asing. Sementara 1 dari 5 direksi adalah dari asing. Dengan berbagai jabatannya, pria yang sempat mencalonkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia itu mengaku dirinya harus membagi waktu sebaik mungkin. "Saya akan berusaha bijaksana dalam kedua tugas tersebut karena masing-masing membutuhkan keahlian yang berbeda," ujarnya.
Cyrillus sendiri menggantikan Drajat Prasetyo yang merupakan pejabat sementara Ketua STIE Perbanas, menggantikan Tony Bambang Trihartanto yang mengundurkan diri pada Maret 2006.
STIE Perbanas sendiri mulai tahun 2007 akan berubah nama menjadi ASEAN Banking and Finance Institute (ABFI) Perbanas. Menurut Cyrillus, perubahan itu merupakan tuntutan aspirasi atas industri perbankan dan keuangan yang tinggi akan permintaan dari SDM yang berkualitas.

Source : http://jkt.detikfinance.com/index.php/kanal.read/tahun/2006/bulan/11/tgl/15/time/094636/idnews/708169/idkanal/68

STIE-STIMIK Perbanas Lebur Menjadi ABFI


JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas dan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Ilmu Komputer (STIMIK) Perbanas melebur diri dan berganti nama menjadi Asian Banking and Finance Institute (ABFI) Perbanas. Hal itu dilatarbelakangi oleh kian dinamisnya industri perbankan dan keuangan serta tingginya permintaan dari industri terhadap lulusan yang berkualitas.
Terpilih sebagai Ketua ABFI Perbanas, Cyrillus Harinowo - doktor bidang moneter dan ekonomi internasional dari Vanderbilt University, Nashville, Tennese, Amerika. Harinowo sebelumnya pernah menjabat Alternate Executive Director International Monetary Fund (IMF) dan puluhan tahun berkarier di Bank Indonesia.
"Dengan penggunaan nama Asian, diharapkan ABFI Perbanas bisa menjadi perguruan tinggi yang mengglobal dengan kualitas lulusan berstandar internasional," kata Pjs Ketua STIE Perbanas, Dradjad B Prasetyo, dalam penjelasannya kepada wartawan, di Jakarta, Senin (13/11).
Dradjad menegaskan, perubahan STIE Perbanas menjadi ABFI Perbanas tidak sekadar ganti nama. Beberapa mata kuliah akan disesuaikan dengan kebutuhan riil di industri perbankan dan keuangan, sehingga lulusan ABFI nantinya dapat langsung terpakai di industri perbankan dan keuangan, seperti perbankan, asuransi, perusahaan tbk dan pasar modal, tidak saja di tingkat lokal, tetapi juga tingkat regional.
"ABFI Perbanas diharapkan bisa menjadi pusat studi dan penelitian masalah perbankan dan keuangan kawasan ini," kata Dradjad seraya menambahkan peresmian nama ABFI Perbanas akan dilakukan hari ini (Selasa, 14/11) oleh Ketua Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono.
(Tri Wahyuni)

Source : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=159940

Sekolah Pun Bisa Dimerger

Yayasan Pendidikan Perbanas (YPP) tampaknya ingin kembali ke khitahnya. Yakni, dengan mengembalikan tujuan awal dua sekolah tinggi yang didirikannya – STIE Perbanas dan STIMIK Perbanas – sebagai pencetak sumber daya manusia yang ahli di bidang perbankan dan keuangan. “Kami akui, dalam perkembangannya, sekolah ini menjadi sekolah umum. Padahal, sekolah ini memiliki kekhususan karena dimiliki oleh Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional atau Perbanas,” kata Dradjat B. Prasetyo, Direktur Eksekutif Perbanas.

Pemikiran tersebut disambut baik, terutama ketika Agus D.W. Martowardojo selaku Ketua YPP melihat ke depan bahwa selain semakin dinamisnya industri perbankan, juga akan semakin terjadi kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri perbankan. Industri ini akan sangat sulit memperoleh tenaga siap pakai yang sebenarnya sangat dibutuhkan mereka. Akibatnya, bank harus selalu mendidik lebih dulu yang tentu saja sangat tidak efisien, baik dari segi waktu maupun dananya.

Melalui Kongres Perbanas ke-16 tahun 2006, gagasan tersebut akhirnya disepakati. Setelah dikaji secara serius sejak 1,5 tahun lalu, diputuskanlah untuk dilakukan pembenahan, di antaranya merger dua sekolah tersebut dan mengubah namanya menjadi Asian Banking and Finance Institute (ABFI) Perbanas. “Daripada usaha manajemen terpecah menjadi dua, lebih baik dilakukan merger dalam satu bendera yaitu ABFI Perbanas,” ungkap Cyrillus Harinowo, Ketua STIE Perbanas.

Dradjat juga mengamini. Menurutnya, merger ini merupakan integrasi yang baik. “Kurikulumnya juga akan terintegrasi, lebih fokus dan terarah sesuai dengan kebutuhan industri. Karena, tujuan kami juga ingin mencetak ahli, termasuk ahli teknologi informasi di bidang perbankan dan keuangan,” tutur Dradjat. Ke depan, dukungan teknologi memang sangat dibutuhkan dunia perbankan jika tak ingin ditinggal nasabahnya.

Di balik ini semua, ternyata YPP mempunyai mimpi besar. Dalam waktu lima tahun ke depan, ABFI Perbanas menargetkan masuk dalam 500 sekolah terbaik dunia. Selain itu, lembaga pendidikan ini ingin bisa berkiprah sampai ke tingkat regional yaitu wilayah Asia. “ABFI nantinya akan menjadi centre for banking study and research di kawasan ini,” kata mantan Pjs. STIE Perbanas ini. Menurutnya, masalah perbankan di Indonesia paling komplet, dan Indonesia pernah memiliki ratusan bank sebelum krisis ekonomi tahun 1997. Artinya, Indonesia bisa dijadikan laboratorium atau studi kasus bagi industri perbankan di kawasan ini.

Gagasan dan rencana ini ternyata disambut positif mahasiswa. Contohnya, Panca, mahasiswa Jurusan Akuntansi STIE Perbanas yang juga Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa. Menurutnya, perubahan akibat merger memang belum dirasakan mahasiswa. “Kurikulum baru akan diberlakukan bagi mahasiswa baru nanti. Tapi ide ini kami sambut baik. Karena ada upaya untuk menjadi lebih baik. Kami berharap lulusan institut ini nanti bisa kompetitif, sesuai dengan kebutuhan industri ini dan gampang terserap,” katanya. Ia pun merasa bangga jika ABFI Perbanas bisa menjadi pemain tingkat regional.

Memang ada beberapa kurikulum yang disesuaikan, tapi diharapkan tidak merugikan mahasiswa, mengingat akan diberlakukan bagi mahasiswa angkatan baru nanti. Terutama pada semester akhir, beberapa kurikulum lebih diperdalam. Misalnya, yang sebelumnya mendapatkan mata kuliah tentang perkreditan, di semester akhir akan diperdalam dengan memberikan pelajaran perkreditan bagi perusahaan korporasi dan ritel. “Sebelumnya, memang tidak dibahas secara mendalam dan tidak fokus. Nantinya akan lebih fokus di bidang perbankan dan keuangan,” Dradjat menerangkan.

Sistem pengajaran pun hendak diperbaiki dengan menggunakan teknik yang lebih modern seperti e-learning. Artinya, sistemnya didasarkan pada student base bukan class base. Dengan demikian, proses pembelajaran bukan hanya di sekolah, tapi mahasiswa bisa belajar di mana pun dan kapan pun, hanya dengan mengakses Internet. Adapun teknik pengajaran dibuat lebih interaktif, agar mahasiswa bisa aktif.

Agar klop, para staf pengajar diberikan training for trainer. Pengajar bakal dimagangkan di bank-bank, yang selanjutnya bisa dijadikan bahan pelajaran bagi mahasiswa. Pengajarnya bukan hanya dari staf pengajar, tetapi juga para praktisi. Pembenahan ini disambut baik oleh Ibu Siti, salah seorang pengajar. “Dengan cara ini, kami memiliki mata kuliah yang lebih kompetitif dibandingkan dengan universitas lain,” katanya.

Dradjat mengakui, dibantu beberapa konsultan, saat ini sedang dirancang struktur organisasi yang terbaik dan tidak merugikan berbagai pihak. Ia berharap, setelah perizinan selesai, rencana ini bisa diwujudkan awal tahun 2007. Menurutnya, dengan adanya merger, bukan hal sulit untuk menyatukan dalam satu budaya. “Kedua sekolah ini kan pemiliknya sama, sehingga budayanya juga hampir serupa,” kata Dradjat.


Farida Nawang Nurini.
URL:http://www.swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=5287

Permohonan ijin ABFI

Baru-baru ini Yayasan Pendidikan Perbanas telah mengajukan permohonan ijin penggabungan STIE dan STIMIK Perbanas menjadi ABFI Perbanas ke Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI. Pejabat di instansi tersebut menyambut dengan antusias atas diajukannya permohonan ijin beserta seluruh dokumen kelengkapannya tersebut dan berjanji akan membantu percepatan kerluarnya ijin yang diperlukan. Antusian dan bantuan yang akan diberikan tersebut tidak terlepas dari usaha-usahayang dilakukan oleh Steering Committee Tim Pembentukan ABFI, dalam hal ini Bapak Dr. Cyrilus Harinowo (Ketua STIE dan STIMIK Perbanas) yang jauh hari sebelumnya selalu mengkomunikasikan rencana pembentukan ABFI tidak hanya ke Dirjen Dikti namun juga ke Ketua Kopertis Wilayah III dan Menteri Pendidikan Nasional. Dengan demikian semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi Asian Banking and Finance Institute (ABFI) atau Institut Perbankan dan Keuangan Asia (IPKA) resmi dapat berdiri dan dapat menjalankan kegiatannya pada awal tahun akademik bulan September 2007.
Merger STIE dan STIMIK Perbanas menjadi ABFI pada dasarnya merupakan sebuah yang diharapkan dapat membawa kedua lembaga pendidikan tersebut menjadi lebih baik dan mempunyai reputasi di tingkat regional (Asean). Perubahan yang akan terjadi adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi dengan cermat. Dukungan positif setiap individu dalam perubahan merupakan salah satu bentuk kontribusi dalam mencapai tujuan tersebut.
(dikutip dari ABFI News, Vol. 1 - Juni 2007).

Info Singkat Rencana Pembentukan Perbanas Institute

INFO SINGKAT
RENCANA PEMBENTUKAN
“ASIA BANKING and FINANCE INSTITUTE (ABFI)”
PERBANAS


Rangkuman Pertemuan Pj Ketua STIE Perbanas Dradjad B. Prasetyo dengan Mahasiswa STIE Perbanas dalam Forum “Sharing Informasi Rencana Pembentukan ABFI” yang diselenggarakan oleh BEM dan MPM pada tanggal 26 April 2006


Pengantar
STIE Perbanas sejak awal pendiriannya (d/h AAP Perbanas) ditujukan untuk mengisi kebutuhan tenaga di sektor perbankan. Namun di dalam perjalanannya, STIE Perbanas mulai menjadi sekolah yang sifatnya umum. Dengan menjadi sekolah yang bersifat umum, membuat STIE Perbanas kesulitan memenangkan persaingan dengan perguruan tinggi yang bersifat umum lainnya seperti UI, UGM, ITB, IPB dll
Sesuai dengan permintaan Ketua Perbanas, Agus D.W. Martowardojo, pihak pengurus Yayasan Pendidikan Perbanas mengkaji ulang Sekolah Tinggi yang berada dibawah naungan Yayasan Pendidikan Perbanas. Kajian ini terutama meninjau dari sisi kekutan eksternal yang dimiliki STIE dan STIMIK Perbanas. Saat ini dinamika jasa pendidikan sangat tinggi. Sekolah yang tidak sanggup bersaing tidak akan dapat bertahan.

Pokok Pikiran Pembentukan ABFI

Income STIE Perbanas 98% didapat dari mahasiswa. Sekolah yang mengandalkan seluruh income-nya dari mahasiswa tidak akan maju. Karena itu, STIE dan Stimik Perbanas bila mau dipertahankan, tidak dapat mempertahankan bentuk yang sekarang. Perguruan tinggi lain, khususnya perguruan tinggi di luar negeri, income yang didapat dari mahasiswa hanya sekitar 50% dan 50% lainnya didapat dari industri.
Sebagai Sekolah Tinggi di bidang ekonomi, sebenarnya lembaga pendidikan ini bisa mendapatkan income lainnya dengan cara menjual berbagai jasa, seperti research yang dibutuhkan industri perbankan dan keuangan, misalnya mengani Risk Management.Selain dengan research, juga dengan memberikan materi/modul-modul kuangan dan perbankan kepada karyawan-karyawan bank. Hal ini sangat dimungkinkan karena adanya peraturan Bank Indonesia bahwa 5% dari biaya tenaga kerja di suatu bank adalah untuk pendidikan.
Saat ini karyawan-karyawan bank belajar di perguruan tinggi lain. Timbul pertanyaan, mengapa tidak ke STIE dan STIMIK Perbanas? Bila kita punya program yang sesuai dengan kebutuhan bank, kita dapat menawarkan program kita. Apalagi kampus Perbanas terletak di segitiga emas, lokasi yang strategis.
Bila STIE Perbanas bisa meningkatkan income-nya, tentunya roda pendidikan akan semakin baik. Income itu nantinya akan dikembalikan untuk kepentingan mahasiswa, berupa peningkatan kualitas dan fasilitas pendidikan, dan juga pengembangan program yang ada di kampus ini. Dengan adanya income dari industri perbankan, Perbanas dapat menekan biaya kuliah dan memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang kurang mampu (cross subsidies).
Selama ini STIE Perbanas, dan perguruan tinggi yang bersifat umum lainnya, tidak menghasilkan lulusan yang siap kerja di bank sehingga pihak bank, sebelum memperkerjakan lulusan perguruan tinggi, harus memberikan training selama 9 bulan. Dalam pelatihan tersebut, mereka dididik menangani operasional bank. Mereka juga diajarkan akuntansi perbankan dan proses trading. Materi tersebut tidak diajarkan diperkuliahan. Akuntansi yang diajarkan di bangku kuliah adalah akuntansi umum, berbeda sekali dengan materi akuntansi di perbankan.
Bila dilakukan analisis SWOT sebenarnya STIE Perbanas memiliki kekuatan, peluang dan kelemahan sebagai berikut :

Strength (kekuatan)
STIE Perbanas dimiliki oleh Perbanas (Perhimpunan Bank-bank Nasional) yang anggotanya tidak hanya bank-bank swasta tetapi juga bank pemerintah seperti Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI, dan juga seluruh Bank Pembangunan Daerah (BPD). Menurut rencana, yang termasuk anggota Perbanas nantinya bukan hanya bank-bank lokal tetapi juga bank asing.
Kekuatan ini perlu ditunjukkan STIE Perbanas, yang tujuan awal pendiriannya memang untuk mengisi kebutuhan tenaga di sektor perbankan.

Weakness (kelemahan)
Telah dilakukan survey/ wawancara kepada para eksekutif dari 10 Bank terbesar, antara lain Bank Niaga, Bank Permata, mengenai 10 perguruan tinggi yang masuk dalam daftar rekomendasi untuk penerimaan karyawan. Dalam daftar rekomendasi tersebut, nama STIE Perbanas tidak ada. Alasan tidak masuknya STIE Perbanas dalam rekomendasi karena dari segi kelulusannya dan juga dari kompetensi saat test, para fresh graduate dari STIE Perbanas ini tidak lulus pada ujian-ujian, baik yang bersifat umum maupun ujian khusus keuangan.
Selama ini perguruan tinggi di Indonesia, termasuk STIE Perbanas, tidak memiliki link dengan industri, sehingga begitu lulus dari STIE Perbanas, lulusannya bingung hendak kemana. Industri keuangan lebih menerima lulusan luar negeri. Padahal kemampuan mereka belum tentu lebih baik dari lulusan STIE Perbanas. Kelebihan mereka adalah adalam hal bahasa Inggris.

Opportunity (peluang)
Saat ini seluruh bank (baik bank asing, lokal, atau daerah) membutuhkan tenaga kerja kira-kira 20 ribu setiap tahunnya. Bila diambil 10% atau 8% nya saja, sudah merupakan jumlah yang sangat banyak.
Dengan mempertimbangkan opportunity tersebut, STIE Perbanas perlu fokus pada segmen tertentu. Segmen yang merupakan kompetensi Perbanas (mengingat jumlah anggota yang dimiliki cukup besar), yaitu industri keuangan. Dengan demikian perguruan tinggi di bawah naungan Perbanas mempunyai market share tersendiri. Lulusannya mempunyai peluang kerja yang pasti

Threat (Ancaman)
Beberapa perguruan tinggi yang baru berdiri seperti Universitas Pelita Harapan dan Universitas Bina Nusantara sudah maju sedemikian pesatnya dan menjadi sekolah favorit. Sebentar lagi perguruan tinggi asing juga akan masuk ke Indonesia, seperti Monash dan Cambridge. Bila kita tidak memperbaiki diri, kita akan ketinggalan/terlindas.

Mengingat beberapa hal tersebut di atas, pendirian ABFI harus saat ini. Bila tidak saat ini, akan terlambat.
Nantinya, bila telah menjadi ABFI, semua lulusan akan ditampung bekerja di bank. Pihak bank tentunya akan langsung menerima lulusan ABFI, bila kurikulum ABFI sudah sesuai atau mendekati standar yang digunakan oleh bank. Dengan kurikulum ABFI yang sesuai atau mendekati standar yang digunakan bank, maka perkuliahan di ABFI menjadi alternative bagi pelatihan karyawan bank yang biayanya besar sekali (sekitar 2,5 – 3 juta per orang/bulan). Dengan adanya ABFI Perbanas dapat menawarkan kerjasama sistem ijon kepada industri perbankan, yaitu mahasiswa (lulusan SMU yang diterima di ABFI) diberi beasiswa, dengan kewajiban bila lulus dari ABFI harus bersedia bekerja di bank pemberi beasiswa.

Nama ABFI Perbanas

Nama “Perbanas” akan tetap digunakan didepan atau dibelakang nama ABFI, karena “Perbanas” sudah memiliki brand image yang bagus. Namanya bisa ABFI Perbanas
Mengapa memakai nama Asean? Ketika krisis ekonomi maupun krisis moneter melanda beberapa negara Asia pada sekitar tahun 1997 dan selanjutnya, Indonesia termasuk negara dengan krisis terbesar dan terlengkap, dibandingkan dengan Korea dan Tahiland (karena jumlah bank di negara tersebut juga sedikit). Jadi bila ada yang membutuhkan studi kasus dapat mencari di sini.

Konsultan

Dalam pendirian ABFI, Yayasan Pendidikan Perbanas dibantu oleh Daya Makara UI, konsultan dari Universitas Indonesia. Daya Makara UI dipilih sebagai konsultan dengan pertimbangan, bahwa sebagai pihak ekstern akan berfikir independen dan objektif. Selain itu Daya Makara UI adalah konsultan professional dari suatu lembaga pendidikan terkemuka dan telah mempunyai track record yang meyakinkan. Saat ini Makara UI sedang mempersiapkan Statuta dan Business Plan-nya

Lain-Lain

a. Jatuhnya industri perbankan tidak perlu menjadi kekhawatiran kita. Industri perbankan akan tetap ada selama masih ada industri-industri lain. Karena itu industri perbankan pasti akan dibutuhkan. Ilmu yang ada di industri–industri lain juga dipelajari di Perbankan. Misalnya karakteristik industri perminyakan, manufacturing, real estate, otomotif, penerbangan. Point-point pentingnya, antara lain accounting dan business model-nya. Karena bila tidak mengetahui point-point pentingnya bisa mengakibatkan kredit macet. Jadi, bila mempelajari perbankan itu berarti mempelajari bidang-bidang lain.

b. Hal-hal mengenai materi kuliah, kurikulum ABFI, proses peralihan kurikulum dari STIE ke ABFI, dan ijazah dalam proses peralihan tersebut adalah sebagai berikut :

  • Materi yang diajarkan di dalam ABFI antara lain mengenai treasury, perkreditan, dan pasar modal. Untuk mata kuliah perkreditan, ada pengantar (introduction), menegah (intermediate), dan lanjutan (advanced). Untuk studi kasusnya, mahasiswa juga mempelajari industri-industri lainnya, tidak hanya industri keuangan dan perbankan, seperti manufacturing, real estate, perminyakan, dan industri penerbangan. Untuk industri penerbangan swasta, misalnya, membandingkan PT Garuda Indonesia dengan perusahaan penerbangan swasta lainnya.

Materi ini agar sinkron dengan industri perbankan.

  • Program studi yang tersedia di kurikulum ABFI juga tetap, yaitu Manajemen dan Akuntansi. Di beberapa semester akhir sebelum lulus nantinya akan ada penguatan-penguatan, berupa mata kuliah konsentrasi seperti International perbankan, treasury, dan operasional bank.
  • Untuk konsentrasi studi ada konsentrasi keuangan perbankan, pasar modal, dan asuransi. Saat ini di Indonesia, asuransi belum banyak diminati. Namun di masa depan, asuransi akan maju, seperti halnya di Amerika, masyarakatnya sudah insurance minded.

Sebelum lulus, mahasiswa dapat mengikuti ujian sertifikasi yang dikeluarkan oleh Asosiasi Perbankan untuk bidang-bidang misalnya Risk Management dan Perkreditan.

  • Mahasiswa baru, yaitu mahasiwa tahun 2006, otomatis mengikuti kurikulum ABFI. Namun, untuk mahasiswa lama yang sudah tahun kedua atau ketiga bisa memilih. Bila mahasiswa mau, dapat transfer ke kurikulum ABFI , atau tetap dengan kurikulum lama. Namun, bila mahasiswa mengikuti kurikulum lama. Bila mahasiswa memilih kurikulum lama, tetapi mau mengikuti mata-mata kuliah penguatan juga boleh di semester-semester akhir.

Bagaimana bila mahasiswa lama, misalnya mahasiswa angkatan 2004, ingin ikut kurikulum 2006 (kurikulum ABFI)? Tentunya tidak perlu mengulang mata kuliah dari awal (seperti halnya mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa angkatan 2006). Mata kuliah untuk mahasiswa angkatan 2006 masih sama dengan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa angkatan 2004, karena masih mata kuliah dasar.

  • Untuk mahasiswa yang transfer ke kurikulum ABFI, di semester-semester akhir sebelum lulus akan diberikan mata-mata kuliah penguatan sesuai dengan konsentrasi yang dipilih. Untuk hal-hal lebih yang lebih rinci, masih dalam proses penggodokan

Bila mahasiswa lama yang hanya skripsi saja ingin ikut mata kuliah penguatan-penguatan, mahasiswa tersebut tidak perlu membayar biaya tambahan (gratis).

  • Mata-mata kuliah ABFI juga sedang digodok. Misalnya internasional banking dan treasury, merupakan mata kuliah yang berbeda atau digabung.
  • Saat ini kurikulum sedang dipelajari. Diusahakan masa studi dalam kurikulum ABFI sama masa studi dengan kurikulum yang lama, bila dahulu 8 semester, kurikulum ABFI juga 8 semester. Dan diusahakan untuk mahasiswa lama tidak dirugikan.
  • Mengenai ijazah lulusan STIE Perbanas, juga sedang dibicarakan dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas. Walaupun mahasiswa (lama) mengikuti kurikulum STIE Perbanas, namun secara legal, nama perguruan tinggi sudah berubah menjadi ABFI. Sehingga lulusan ABFI yang menggunakan kurikulum STIE Perbanas, tidak dapat lagi dituliskan sebagai lulusan STIE Perbanas, tetapi di dalam ijazahnya akan tertulis “ABFI (dahulu STIE) Perbanas”
Sosialisasi

Sosialisasi pendirian ABFI pasti akan dilakukan, antara lain diumumkan pada saat kongres Perbanas. Di dalam kongres tersebut juga hadir para pengurus Bank Pembangunan Daerah, yang mempunyai cabang-cabang di daerah. Karena itu, otomatis sosialisasi akan di lakukan ke industri-industri di daerah, khususnya industri perbankan. Progress dalam proses pendirian ABFI akan disosialisasikan secara berkala kepada seluruh stake holder.